Translate

Minggu, 17 Februari 2013

Cyber Crime

Januari 2013, waktu itu saya ingin membeli handphone baru dengan budget tidak lebih dari Rp 1.500.000. saya ingin membeli dengan cara online, kemudian saya mengecek harga handphone samsung di toko bagus, akhirnya saya temukan handphone dengan harga sesuai di laman sekian dari pencarian saya. Karna saya tertarik dengan handphone itu, dan harganya sesuai denga budget saya maka saya order, kirim sms ke nomer yang tertera di iklan handphone itu. Mereka memberikan format (saya lupa2 ingat)
1.       Nama                    :
2.       Jenis kelamin     :
3.       Alamat lengkap :
4.       Kota                       :
5.       Pembayaran      : 1) MANDIRI      atau 2) BRI
Lalu saya mengorder dengan format sms yang mereka tentukan, saya kirimkan uang sejumlah 1.350.000 dari rekening BRI saya ke rekening BRI atas nama SRI MARTINI dengan nomor rekening 330401002687504. Selama proses pengorderan saya berinteraksi dengan seorang perempuan yang mengaku sebagai pegawai toko, setelah saya transfer uang tadi, saya disuruh meminta resi kepada bos toko, pegawai toko itu memberikan nomor bosnya.
Kemudian saya hubungi nomor bos nya, lelaki itu mengaku bernama kokoh rico dan berbicara bahasa indonesia dengan logat tionghoa “Loe olang”, “Owe”. Saya minta resi tapi dia bilang ada kesalahan informasi dari pegawai barunya yaitu untuk pengiriman barang pesanan ke kota saya, Banjarmasin minimal harus dua items. Jadi dia mengharuskan saya membeli handphone yang saya pesan tadi sebanyak 2 items. Dia bilang, jika 2 items tadi sudah sampai ke banjarmasin, saya boleh mengembalikan salah satu diantaranya dan uang saya akan dikembalikan senilai harga satu handphone itu. Akhirnya, saya menurut saja, saya transfer lagi uang sejumlah 1.350.000 ke rekening yang sama atas nama SRI MARTINI.
Selang beberapa jam saya transfer uang tuk yang kedua kalinya, saya mendapat panggilan dari nomer handphone yang tidak saya kenal, dia mengaku dari pihak cukai, begini kurang lebih percakapannya.
“selamat siang dengan ibu nafisah”
“ya, betul”
“apa betul, anda memesan Galaxy Nexus sebanyak dua items, dengan warna hitam  dan putih”
“ya, betul”
“saya dari pihak cukai ingin mengabarkan bahwa dua barang Anda kami tahan karena dua barang anda tergolong illegal, tidak ada tanda dari pihak cukai, dan belum terkena pajak”
“apa? Saya gak tau kalo barangnya illegal!! Pemilik toko tidak menjelaskan apaun status barang yang saya pesan itu”
“ibu tau? Tindakan ini tergolong tindakan kriminal? Ini sangat merugikan negara ibu!!”
“saya tau! Kalo saya tau ilegal saya juga gak akan pesan, saya beneran gak tau”
“saat ini barang ibu kami tahan, ibu tau harga normal galaxy nexus ini dipasaran adalah Rp 3 juta sekian, jika ingin barang ibu kami lepaskan maka ibu harus membayar pajaknya sebesar RP 2.750.000, baru barang ibu akan kami lepaskan”
Setelah saya cek di internet, memang benar harga Galaxy nexus itu normalnya 3 jutaan, barulah saya percaya saya membeli barang ilegal. Setelah itu saya complain lewat telpon ke kokoh rico, kalo barang saya ditahan karena dibilang ilegal, kokoh rico mengakui kalo barang2 yang dijualnya adalah barang illegal, dia bilang “loe olang bayar aja dulu yang mereka minta, nanti semua nya owe ganti, kita ambil jalan damai aja”
Karena saya percaya waktu itu saya telah membeli barang illegal seperti yang pihak cukai tuduhkan, maka saya tidak keberatan untuk membayar pajak dari 2 items galaxy nexus tadi. Akhirnya saya transfer lagi uang sejumlah Rp 2.750.000 ke rekening BRI dengan nomor 0116.0105.8453.509 atas nama GOFUR SETIAWAN. AKBP GOFUR SETIAWAN itu kata pria dari pihak cukai (saya lupa namanya). Saya pikir setelah saya bayar pajaknya, barang saya akan dibebaskan. Pihak cukai ini ternyata semakin berulah, mereka menghubungi saya kembali dengan dalih
“sementara ini kami sedang menghubungi pihak toko untuk konfirmasi sudah berapa lama berjualan barang illegal seperti ini. Ibu, pemilik toko beserta kawan-kawannya dapat diseret ke ranah hukum karena kasus ini. Sekarang Anda pilih mau membawa kasus ini ke ranah hukum atau damai saja dengan membayar uang tutup kasus sebesar Rp 5.000.000”
Saya kembali menghubungi kokoh rico, menanyakan mau diseret ke ranah hukum karena kasus ini, atau damai saja, dia bilang damai saja, nanti semua uang saya ganti. Karena uang di rekening saya jumlahnya tidak sampai RP 5.000.000, lalu saya minta keringanan ke pihak cukai, mereka menyetujuinya dan memotongnya setengah harga menjadi Rp2.500.000 dengan batas waktu akhir sore tanggal 7 Januari 2013, hari itu tanggal 7 januari 2013 dan hari pun sudah menjelang sore. Singkat cerita, akhirnya saya transfer uang yang diminta pihak cukai senilai Rp 2.500.000. dan berharap urusan selesai sampai disitu.
Tiba-tiba masuk sms dari pihak cukai, isinya format sms yang sama persis dikirmkan oleh pegawai toko
1.       Nama                    :
2.       Jenis kelamin     :
3.       Alamat lengkap :
4.       Kota                       :
5.       Pembayaran      : 1) MANDIRI      atau 2) BRI
Saya jawab “kenapa kirim sms begini ke saya?”. Mereka berdalih “Apa betul itu format sms yang dikirimkan ke nomer Anda untuk order barang di toko itu?”. Saya jawab “Ya betul”. Mereka membalas “kami menggunakan format ini untuk menjaring lebih banyak lagi orang-orang yang membeli barang ilegal dari toko ini”
Tidak lama kemudian pihak cukai menelpon saya, mengabarkan bahwa pihak cukai tidak setuju tutup kasus dibayar dengan setengah harga, saya harus membayar RP 2.500.000 lagi jika ingin tutup kasus, jika tidak maka saya dapat dijerat dengan kasus ini. Mereka memberikan batas waktu akhir sore hari itu juga, 7 Januari 2013. Karena saya tidak punya cukup uang di rekening saya, akhirnya saya meminjam uang dari rekening ayah saya, saya transfer uang dari rekening ayah saya sebesar RP 2.500.000 sesuai yang mereka minta ke rekening GOFUR SETIAWAN tadi.
Saya terus berusaha menghubungi kokoh rico, memberikan konfirmasi perkembangan kasus yang menimpa kami berdua, namun telpon kokoh rico tidak pernah diangkat lagi, pihak cukai bilang dia sudah tertangkap, sedang diinterogasi, handphonennya disita, jadi tidak bisa dihubungi, pihak cukai meminta saya untuk tidak menghubungi kokoh rico lagi sementara waktu. Malam harinya, setelah maghrib, pihak cukai menelpon saya lagi bahwa mereka sedang mengurus penutupan kasus di pihak cukai, saya disuruh menunggu kabarnya besok pagi.
Keesokan paginya saya mendapat telpon dari cukai bahwa kasus di cukai telah ditutup, tapi ternyata kasus ini masuk ke kepolisian dan saya di telpon pihak kepolisian jakarta pusat, pria itu bernama Bram, saya masih ingat, dia mengaku bekerja di kepolisian jakarta pusat, dengan nada mengancam dia berkata
“saya Bram dari kepolisian Jakarta pusat, kasus Anda telah masuk berkasnya ke Jakarta pusat, jika Anda tidak ingin diseret ke penjara Anda harus membayar uang sebesar Rp 17.000.000 atau menyewa pengacara untuk membela diri Anda di pengadilan”
Saya bilang saya tidak ada uang segitu di rekening saya
“tapi diusahakan kan bisa bu? Atau Anda mau kami seret ke penjara”
“Saya gak ada uang segitu, sumpah”
“kalau dua juta ada tidak”
“Gak ada juga”
“tapi bisa diusahakan kan?”
“Saya gak ada uang segitu, beneran”
“pikirkan baik2 ibu, Anda lebih baik bayar uangnya, atau kasus ini berlanjut, jika tidak bayar, besok kita sidang dan petugas kami akan menangkap Anda ke Banjarmasin, Anda bisa masuk penjara”
“saya gak ada uangnya”
“pikirkan masa depan Anda, Anda sudah bekerja atau sekolah”
“Saya mahasiswa”
“Pikirkan nama baik Anda sebagai mahasiswa, nama baik universitas Anda”
Saya menjadi semakin kalut, dan mereka terus mendesak saya
“Jadi bisa Anda usahakan kan?”
“Saya belum tau”
“Jawab iya atau tidak”
“Saya belum tau”
“Iya atau tidak, atau Anda tunggu petugas kami menangkap Anda ”
“Iya”
“Baiklah, kami tunggu paling lambat setelah jam makan siang”
Telpon ditutup
Saya begitu kalut, saya adukan hal ini ke ayah saya bahwa mereka meminta uang lagi, dan saya berniat meminjam uang lagi ke ayah saya, ayah saya bilang tidak usah dipedulikan, mereka itu berbohong, mereka sudah menipumu habis-habisan, saya telpon teman-teman terdekat saya, mereka juga meyakinkan bahwa saya telah ditipu, akhirnya saya tidak transfer uang itu sampai akhir jam makan siang, lelaki bernama bram itu kembali menghubungi nomor saya, tapi telponnya tidak saya angkat.
Dan sampai hari ini tidak ada petugas yang menangkap saya untuk menyeret saya ke meja hijau, mereka benar-benar menipu saya
Sayang, saya tidak bisa memberikan nomer handphone mereka masing-masing, karena kontak list saya sudah diformat, padahal terakhir saya cek, nomer mereka berempat masih aktif (pegawai toko, kokoh rico, pihak cukai dan Bram). Saya yakin mereka sudah merencanakan skenario ini, barang ilegal itu hanya bohong belaka, saya yakin mereka mengenal satu sama lain.
Saya harap, kepolisian dapat mengusut kasus ini sampai tuntas, sehingga tidak ada lagi korban berjatuhan dan mengalami kerugian materil seperti saya. Dan memberikan hukuman yang sesuai bagi mereka
Terima kasih

itu adalah copy paste dari email yang ku kirim ke ncb-jakarta@interpol.go.id untuk pengaduan cyber crime yang aku alami !!! semoga postingan ini bermanfaat bagi kita semua, dan tidak ada lagi terjadi hal-hal semacam ini

Minggu, 21 Oktober 2012

Susahnya Bergaul Orang Elit

Sabtu, 20 Oktober 2012

pukul 15.30 WITA aku menunggangi kuda besi ku ke kota Banjarmasin dari BeLanda (cara anak gaol Banjarmasin buat bilang "Belakang Bandara", dimana rumahku berlokasi) setelah menjenguk temanku dari rumah sakit, habis kecelakaan, bibirnya robek, giginya jadi ompong dua didepan!! Kesian bener dah, huhuh. dan berfoto di sekitar bandara bersama salah satu Best Fren qu, hehehe
Melenggang ke Banjarmasin bukan tanpa tujuan, yang tak lain adalah menghadiri pertemuan santai bersama Pak Didik (salah satu orang penting di perusahaan XXX yang sedang aku jalani tesnya), sekaligus melengkapi berkas biodataku yang masih kurang, hehe...tepatnya gara2 daftar pake KTP expired, berkas jd tertunda buat diproses :(.
 
Akhirnya aku tiba di Banjarmasin, menghentikan kuda besi ku didepan kantor perusahaan XXX. Sesuai informasi yang disebarkan lewat SMS nya mbak Ema, kami semua akan dikumpulkan di Mess Tim Dahsyat XXX (yang sebenarnya aku juga belum tau dimana lokasi mess tersebut). Berkali kali ku telpon dan SMS mbak Ema agar ku dapat mencapai tempat tujuan. Sampai akhirnya aku tiba di sebuah perumahan bernama "Komplek Banua Anyar". "Widih...widih perumahan orang elit bo, baru masuk itu komplek udah ada security di pojokan jalan", gumamku dalam hati.
 
Mataku langsung disambut sebuah rumah elit dengan cat dasar warna merah, abu-abu, putih. Di dalamnya mobil-mobil mewah tersusun rapi. Aku berhenti didepan pagar rumah elit itu, berniat masuk ke dalam rumah (padahal aku belum tau dimana lokasi mess itu pastinya). Namun, setelah melihat segerombolan orang menunggangi sepeda motor beramai-ramai, aku berubah pikiran dan mengikuti mereka (ku pikir mereka adalah orang-orang perusahaan XXX). Eh, pada akhirnya mereka berpisah di belokan yang berbeda-beda sampai ku ikuti satu orang dan tersesat di Jalur II. Karna sudah hampir putus asa, akhirnya ku telpon lagi mbak Ema, dan aku dapat jawaban yang sama "Kiri, di pojok". Apaan? Mana aku ngerti kalo begitu alamatnya!! Aku juga bingung kenapa selalu suami mbak Ema yang angkat telponku, mungkin mbak Ema sedang sibuk, gumamku dalam hati.
Beberapa menit kemudian aku dapat clue tambahan ada mobil ".....", merek mobil mewah gitu deh lupa namanya. Kemudian aku teringat rumah mewah dengan cat warna merah, puttih dan abu-abu tadi. Dan dirumah itu ada banyak mobil, mungkin saja mobil merek mewah itu ada disitu pikirku. Dalam percakapan ditelpon "yang depannya ad amobil "....."mbak", kata mbak Ema. Ku tanya "oh, yang rumahnya warna merah, putih sama abu-abu ya??" untuk memastikan. "Iya,,iya". kata mbak Ema.
 
Melajulah aku ke rumah elit tadi, batu-batu tersusun rapi membentuk kata "Welcome" tak lepas dari pandanganku. Ku lewati pagarnya yang terbuka dan menghentikan kuda besiku didepan rumah itu (aku tidak yakin itu bagian depan rumahnya, ntahlah aku pun tidak bisa mengenali yang mana bagian depan rumahnya). Aku bingung, bertanya-tanya dalam hati apakah benar ini mes milik perusahaan XXX. Sempat aku terdiam sejenak. Sampai akhirnya seorang pria dalam mobil (mau keluar pagar) menyapaku "Cari siapa mbak?", dengan kikuk aku menjawab "Mas, ini yg mess perusahaan XXX itu ya?". Dia menjawab "Oh, bukan mbak, kalau yang perusahaan XXX itu di ujung sana" (di ujung sana, yang juga aku tidak tau dimana.) Aku yakin lelaki tadi adalah pemilik rumah elit ini. Karena belum merasa puas dengan jawaban lelaki tadi, aku bertanya kepada dua orang wanita yang sedang sibuk mengepel teras rumah itu (sepertinya mereka pembantu dirumah itu). hehe...."Bu, numpang tanya ini yang mess perusahaan XXX itu ya?". "Oh bukan!" jawab salah seorang wanita. "Kalau jalur I itu dimana ya?" lanjutku bertanya. "Oh, jalur I disana! (sambil menujukkan arah jalan dengan telunjuknya)", "Jalur I ada 2, Ia sama Ib, Ib di ujung sana", tambahnya. "Oya, makasih bu, kirain ini mess anu bu" dengan malunya. hehe (Akhirnya sadar salah masuk rumah). Dua wanita itu senyum simpul atas kekonyolanku! "Kirain tadi guru ngaji!!!!!" sahut salah seorang wanita kembali. Aku sungguh tidak bisa berkata apa-apa lagi, mendengar perkataannya. "Sholehah banget ya wajahku ini sampai dikira guru ngaji?? hahahaha,, mentang-mentang aku pake kerudung"

Setelah keluar dari rumah elit itu, aku memilih untuk belok ke Jalur Ia. Baru saja tiba di belokan tersebut, seorang laki-laki berbaju gamis putih melambaikan tangan kepadaku. Aku ragu pria itu benar Pak Didik atau bukan. Pria itu melambaykan tangannya lagi kepadaku, memintaku mendatanginya dengan setengah memaksa. "Ayo kesini!!" katanya. Dibegitukan, akhirnya aku mendatangi pria itu meyakini kalau itu pak Didik (karena secara garis besar perawakan keduanya mirip, berkulit gelap dengan perut agak buncit hehe). Kudekati pria itu, dan kulihat beberapa orang hilir mudik sibuk mengangkuti piring berisi makanan. "Yesss!! perut keroncongan,, makanan udah didepan mata!! Pas banget nih waktunya aku datang!! " gumamku dalam hati. Ku hentikan kuda besi ku mendekati bapak itu dan masih sempat bertanya (Kalau-kalau salah rumah lagi :P), "Pak, ini yang mess perusahaan XXX itu ya?". Sontak dia menjawab "Ohh mun XXX tu di ujung sana nah,, nah,, (Berbicara dalam bahasa banjar)". Ku palingkan wajahku ke arah kiri sesaat, aku pun mengerti. "Yah, gagal dapat makan gratis!". Memang tidak mungkin TIM Dahsyat XXX segitu banyaknya, sampai memenuhi isi rumah itu, tumpah ke teras, ada nenek-nenek pula!! sudah lah pasti ini acara "SELAMETAN" :(

Ku langkah kan kembali kuda besiku dengan gontai menuju ujung jalan, aku tidak yakin bangunan itu adalah mess, lebih mirip rumah keluarga sebenarnya. Aku melihat beberapa buah sepeda motor parkir didepannya, aku juga parkir. Dan...Masya Allah, ku lihat pak Didik sedang bercuap-cuap tentang perusahaan XXX. Ku ucapkan salam saat memasuki rumah tersebut, salamku dibalas dan aku duduk. Pak Didik menyindir "Seharusnya datang on time ya, ini sudah lewat 15 menit". Dalam hatiku "Pak, saya ini tiba di Banjarmasin in time malah, tapi alamat bapak tuh gak jelas!! saya jadi telat!! untung saya gak dikasih alamat palsu kaya Ayu Ting Ting, Huh"

Pertemuan berjalan lancar, sampai akhirnya Pak Didik ingin menunjukkan Income Summary nya pertahun kepada kami lewat proyektor (tapi dia bilang proyektor dia kebawa mbak Ema yang ternyata sedang berada di Kalteng). Aku jadi berpikir, ohh jadi mbak Ema sms aku dari Kalteng toh! Pasti sms ku sangat menggangu kesibukan beliau. Akhirnya, Pak Didik memilih menghubungkan laptopnya ke Televisi (Berapa inch ya?? umm...gede gitu deh!). Sambil menunggu terhubungnya laptop ke televisi Pak didik menjelaskan spesifikasi laptopnya "Ini laptop apple, harganya 23 juta, saya beli waktu saya ke Amerika. . .belum ada ini di Indonesia! Laptopnya gak usah dimatiin!!". seumur umur baru kali ini aku liat laptop Apple di depan mata, harganya 23 juta pula! haha

Aku makin kagum waktu liat tampilan layar laptop itu ditelevisi, beda banget sama laptop-laptop yang biasa aku lihat. Display sama taskbar nya CANGGIH lah pada intinya, enak banget kayanya megang tu laptop :(, super tipis pula, keyboardnya ada lampunya, desainnya mewah euy! Pak didik menambahkan "Ini nih yang paling saya suka dari laptop ini, chargernya kaya magnet, jadi kalo ada orang kesandung tali charger, chargernya aja yang lepas, laptopnya gak ketarik, gak kaya laptop pada umumnya, jadi aman". "Oyayaya...." aku semakin kagum :) "Enak mah, orang kaya, penghasilannya aja lebih dari 100 juta perbulan"

Adzan maghrib berkumandang, kami menghentikan diskusi dan sharing. Mereka sholat maghrib (Aku tidak hee). Sementara mereka sholat, aku menumpang ke kamar kecil. Aku masuk dan ku dapati closet duduk :( (Aku tau cara menggunakan closet duduk, tapi aku tidak terbiasa menggunakan closet duduk hehe). Pertama-tama ku amati semua perabotan yang ada di kamar kecil tersebut. Ku pelajari bagaimana menggunakan perangkat closet duduk itu satu persatu, semua OK!! "Tidak akan terjadi apa-apa, aku pasti bisa menggunakannya :P". Duduklah aku diatas closet duduk itu, masalah datang saat aku tidak mahir menggunakan selang yang terpisah dari closet duduk itu (cara kerjanya berbeda,kalo selang pada umumnya kontrolnya ada di ujung selang, dan kita cukup tekan pengontrolnya selama yang kita mau). Kalau ini, pengontrolnya tertempel di dinding dan letaknya agak sulit digapai saat kita duduk di atas closet tersebut, cilakanya lagi air dari selang itu akan terus mengalir kalau tidak aku matikan pengontrolnya di ujung sana. Susah payah aku menyalakan selang itu karna memang susah menggapainya, air yang mengalir kecil pula :(. Saat aku ingin menaikkan celanaku, artinya aku harus mematikan selang tersebut, mungkin karna aku kesusahan mematikannya, airnya tidak terkontrol dan mengarah ke celana ku. :( Akhirnya, terpaksalah aku mengikuti discussion 'n sharing setelah sholat maghrib itu dalam keadaan celana basah di pantat : (Untung bajuku panjang dan berwarna gelap, jadi tidak terlalu keliatan xixixxi)
Tapi aku senang dapat makan malam gratis, ENAK :) dan yang lebih penting bisa bertemu dengan orang-orang yang pastinya akan menjadi inspirasi bagiku untuk lebih maju lagi :)
 
Akhirnya, pukul 21.00 Wita aku pamitan mau pulang ke BeLanda kepada Mas Didik, Tim dan keluarga beliau. Saat aku ingin melangkah pergi Mas Sapto tergopoh-gopoh mendatangiku (Dia adalah tangan kanan Pak Didik dan yang mengabari kalau berkas tertunda untuk diproses lebih lanjut). Katanya "Mbak, KTP itu selesainya kira-kira 2 hari ya, Senin-Selasa, Rabu mbak bisa kesini lagi". "Iya Mas, boleh minta nomer hapenya biar saya enak kasih kabar?" sambil menggenggam Hape di tangan. "Itu tadi nomor saya" jawabnya. Aku bingung dan belum sempat mengambil kesimpulan. Dia udah miskol ke handphone ku (tanpa ku tau), tiba-tiba muncul panggilan masuk "Incoming call Mbak Ema XXX". Kami sama-sama tercengang melihat layar hapeku. Dia bingung aku menamai nomornya dengan "Mbak Ema" dan aku juga malu gara-gara nama "Mbak Ema" itu. Jadi
selama ini yang mengabari kalo ada discussion n sharing TIM Dahsyat dan yang berkali-kali ku telpon atau sms soal alamat itu adalah.......???????? (Duh,, Mas Sapto kok ga pernah komplain sih kalo aku panggil mbak Ema di sms >_<)